01
Sep

Trik Botol Sambal

[oleh: Eko Widiatmoko, Alumni Fisika ITB]

Misalkan ada botol dengan tinggi 20 cm, diameter 8 cm, tebal dinding 4 mm, bahan kaca, diameter mulut botol 3 cm. Botol ini terisi sambal dengan skala kepedasan 50000, viskositas 1000 kali air (seperti apa sih?), volume seperempat penuh, berada di dasar botol. Sisanya udara. Percepatan gravitasi 9,8 m/s2, tekanan udara 760 mmHg, temperatur 250oC.

sambal1

Pertanyaannya:

Bagaimana cara mengeluarkannya?

Gimana ya?

21
Jul

Jawaban Teka-Teki Timbangan

[oleh: Zainul Abidin, alumni Fisika ITB]

Masih ingat Teka-Teki Timbangan? Kan belum ada yang bener-bener berhasil jawab dengan betul tuh… Kita bahas aja yuk…

» PERTANYAAN 1

Gaya-gaya apa saja yang terlibat? Tentu ada gaya gravitasi.
Bagaimana dengan gaya oleh otot-otot dan antara bagian-bagian tubuh? Terlalu rumit.
Persoalan menjadi lebih sederhana jika kita memperhatikan gerakan pusat massanya saja. Dengan demikian, cukup gaya-gaya dari luar saja yang diperhitungkan; bukan gaya-gaya antara bagian tubuh yang satu dengan yang lain. Mengapa?

Mengapa ya? Penasaran ih!!!

04
Jul

Teka-Teki Timbangan

[oleh: Zainul Abidin, alumni Fisika ITB]

» PERTANYAAN 1

tekatim1

Dari posisi berdiri ke posisi jongkok, bagaimana berat badan yang terbaca oleh timbangan sebagai fungsi waktu?

tekatim

Pertanyaan selanjutnya?

01
Jul

Miskonsepsi Laju Rata-Rata

Misalkan kita menempuh perjalanan PP (”pergi-pulang” atau “pulang-pergi”) dari gedung fisika ke gedung rektorat. Perjalanan pergi dilakukan dengan laju 15 km/jam, sedangkan perjalanan pulang dengan laju 30 km/jam. Lalu muncul pertanyaan,

Berapa laju rata-rata perjalanan PP tersebut?

Dengan sangat percaya diri, mungkin kita langsung menjawab, (15 + 30)/2 = 22,5 km/jam.
Benarkah jawaban tersebut?

Mari kita telaah lagi…

28
Jun

Palu dan Garpu Aneh

Hmm… mohon maaf selama beberapa hari terakhir ini kami tidak bisa terlalu rajin memperbaharui situs ini karena keterbatasan SDM yang aktif selama masa liburan panjang ala mahasiswa.
Halah! Ngeyel, deh… :d

Sebagai penawar rasa rindu, coba perhatikanlah beberapa gambar berikut ini. Sebenarnya untuk sebagian orang bisa jadi ini termasuk barang basi, tapi untuk sebagian yang lain bisa juga mengundang rasa penasaran sekaligus tak percaya.
Trus, mana gambarnya?

07
Jun

Reporter Kecoa dan Bola Gila…

[oleh: AhmadRidwan T. Nugraha dan Eko Widiatmoko, telaah ulang dari edisi tahun lalu, 28 April 2007]

Alkisah ada tiga ekor kecoa yang sedang mengobrol di balik sebuah meja. Suatu ketika, timbul penampakan, ada objek tak dikenal melesat dari lantai, menghantam bagian bawah meja, lalu memantul kembali ke tempat semula!

04
Jun

Berlari Saat Hujan

[oleh: Zainul Abidin, alumni Fisika ITB]

Pagi-pagi sekali si Fulan berangkat ke kampus dengan berjalan kaki, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sialnya ia tidak membawa payung. Apa yang harus ia lakukan? Posisinya 50 meter dari tempat berteduh terdekat. Sebagai mahasiswa fisika, si Fulan mulai menghitung untung ruginya. Pernahkah Anda berada pada situasi yang sama?

kasihan Fulan

Faktor apa saja yang mempengaruhi perhitungan? Apakah bentuk dan ukuran tubuh, intensitas air hujan, kecepatan air hujan, sudut jatuhnya air hujan, kecepatan berlari, atau jarak tempuh? Wah… Si Fulan harus berpikir cepat.

Bantuin Zainul… eh, salah, bantuin Fulan…

28
Mei

Simulasi Gerak Parabola

[kontribusi dari Anjar P. Wicaksono]

Kali ini kami akan tampilkan sebuah simulasi sederhana untuk gerak parabola. Dalam simulasi (atau lebih tepatnya visualisasi) ini, Anda dapat mengamati gerak parabola dengan parameter yang Anda sukai. Parameter yang dimaksud terdiri dari kelajuan awal, sudut elevasi, dan percepatan gravitasi. Setelah Anda masukkan ketiganya, maka simulasi akan dimulai dengan menampilkan besar komponen kecepatan horizontal dan vertikal setiap saat, kemudian juga posisi setiap saat dan waktu tempuh total.

Selain itu, terinspirasi dari tulisan “Stipen Spilberk Salah Pasang Roll Film”, dalam simulasi ini juga disertakan tombol untuk memutar arah pergerakan benda.
Tanpa basa-basi, silakan coba sendiri… (jangan lupa pastikan web browser Anda mendukung flash player!)

Aduh… dah gak tahan pingin coba nih…

21
Mei

Stipen Spilberk Salah Pasang Roll Film

[oleh: Akhmad Yulianto, Tim Admin 102FM]

Sore itu adalah hari terakhir pengambilan gambar untuk film terbaru sutradara kawakan, Stipen Spilberk dari Lembah Cikoneng, yang berjudul Ieu deuih Jons dan Kampung Jojodog Herang. Setelah bayar honor para pemain dan nasi timbel tadi malam, Stipen membawa roll film hasil shooting ke laboratorium untuk dicuci (30 menit jadi!). Karena diburu oleh deadline, proses pengolahan dilakukan tidak dengan hati-hati. Hasilnya, saat pemutaran perdana film “Ieu deuih Jons dan Kampung Jojodog Herang” penonton dikecewakan saat beberapa adegan urutannya terbalik (kata penonton lho). Stipen Spilberk terpaksa meminta maaf kepada penonton atas kejadian ini.

Keesokannya, Stipen membawa roll film tersebut ke laboratorium pribadi miliknya. Stipen menyelidiki bagian yang dianggap terbalik oleh penonton:

accframe

Pada frame tersebut, yang diinginkan dalam film adalah adegan agar percepatan benda berarah ke bawah. Urutan yang seharusnya (kata penonton) adalah dari kanan ke kiri, padahal menurut Stipen harusnya dari kiri ke kanan. Ia pun mulai bertanya-tanya dalam pikirannya,

Apa yang salah? Bukankah saya sudah pasang dengan benar (kiri ke kanan) supaya benda dipercepat ke bawah? Memangnya saat frame film dibalik (kanan ke kiri), ke mana arah percepatan?
ke bawah? atau ke atas?
Bukannya jadi ke atas?

Tolongin pak Stipen ah…

20
Mei

Kematian Seekor Lalat

[oleh: AhmadRidwan T. Nugraha, Tim Admin 102FM]

Lalat? AADL? Ada Apa dengan Lalat?
Tenang… Di sini kami menggunakan lalat hanya sebagai sebuah model. Apa yang ingin dibahas sebenarnya adalah lagi-lagi tentang salah satu teknik pemecahan masalah fisika yang baik dan benar (cepat dan selamat). Kami harapkan dengan pemberian beberapa “solusi yang mengejutkan” akan bisa memotivasi kita semua untuk belajar fisika lebih baik lagi.

Beberapa masalah fisika ternyata tidak selalu membutuhkan pengerjaan dengan tangan (corat-coret kertas). Banyak diantaranya yang memiliki beragam solusi, termasuk yang lebih cepat meski hanya sekedar nalar di luar kepala (eh, dalam kepala). Tentu pengalaman dan latihan yang cukup akan membuat kita mampu mengenali soal-soal bagaimana yang dapat dipecahkan langsung tanpa perlu hitung corat-coret dulu di kertas, seperti yang akan dibahas kali ini.

Ceritanya, ada dua buah kereta jalur Bandung-Surabaya, yang jarak kedua kota itu adalah 800 km. Satu kereta memulai perjalanan dari Bandung, satunya lagi dari Surabaya. Kedua kereta bergerak pada jalur yang sama, sehingga pada suatu saat keduanya tentu bisa tabrakan. Kereta S (dari Surabaya) bergerak dengan kecepatan konstan 60 km/jam, sedangkan kereta B (dari Bandung) bergerak dengan kecepatan 40 km/jam.

Pada waktu yang sama, seekor lalat memulai perjalanan dari posisi salah satu kereta (terserah yang manapun) dengan kecepatan 80 km/jam ke arah kereta satunya lagi. Oleh karena laju terbang si Lalat itu lebih cepat dari kedua kereta, tentu suatu saat si Lalat bisa lebih dulu menyentuh kereta yang lain. Nah, setiap kali lalat itu menyentuh salah satu kereta, ia akan bergerak ke arah yang berlawanan menuju kereta satunya lagi (dengan laju dipertahankan 80 km/jam), dan begitu seterusnya hingga kedua kereta tabrakan dan si Lalat mati kegencet.

Pertanyaannya: Berapa km jarak yang ditempuh si Lalat sebelum kematiannya?

Penasaran?