[oleh: Eko Widiatmoko, Alumni Fisika ITB]
Salah satu topik yang paling banyak rumusnya dalam fisika SMA dan SMP adalah optik. Pembahasannya termasuk cermin, lensa, pembiasan permukaan lengkung, teropong, mikroskop, kaca pembesar, kacamata. Banyak bukan? Apalagi rumusnya. Yang sependapat acungkan jari sambil nyengir :d
Pernahkah suatu saat terpikir:
dari mana asalnya semua rumus-rumus itu?
Belum pernah? Berarti Anda normal. Misalnya, kita tahu dan terima saja, rumus ini:
Dari mana coba datangnya?
Pernah lihat penurunannya?
Tidak? Bagus.
Rumus lain seperti
Berasal dari kalkulus-integral. Rumus induknya yaitu Δs = vt dan Δv = at yang merupakan definisi. Rumus lain lagi seperti F = ma merupakan hukum yang ditemukan dari eksperimen. Bagaimana dengan rumus-rumus optik? Silakan saksikan. Ambil popcorn, susu hangat, siapkan bantal, jangan lupa berdoa, eh, maksudnya, duduk yang enak.
1. JARAK BAYANGAN CERMIN LENGKUNG
Ambil cermin cekung. Pembentukan bayangan digambar seperti ini:

Gambar 1. Cermin Cekung (klik untuk gambar ukuran sebenarnya)
Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui fokus
Kalimat yang terkenal di seluruh sekolah menengah. (Iklan Fanta berikutnya?) Pertama kita bahas ini dulu. Perhatikan gambar.

Gambar 2. Detail pada cermin (klik untuk gambar ukuran sebenarnya)
Sinar datang membentuk sudut tertentu α terhadap radius, yang tegak lurus terhadap bidang lokal cermin. Sudut pantul = sudut datang. (ini pun bisa dijelaskan kenapa) Untuk sudut yang kecil kecil sekali, fungsi sinus dan tangen mendekati nilai sudutnya. Sudut antara sinar pantul dan sumbu utama adalah dua kali sudut “tertentu” yang tadi. Karena
(ingat sudut kecil), maka
Fokus adalah setengah jari-jari kelengkungan cermin. Kok malah membuktikan ini sih?! Yang jelas, sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan ke suatu titik yang jaraknya r/2 dari cermin. Inilah fokus.
Kembali ke gambar pertama.

Gambar 3. Cermin cekung + indeks (klik untuk gambar ukuran sebenarnya)
Perhatikan bahwa:
dan
Jika diutak-atik menjadi:
itu untuk sudut α, untuk β
atau
Menyamakan keduanya menghasilkan:
Diolah lebih lanjut…
Bagaimana untuk cermin cembung dan lensa? Seperti kita tahu, rumusnya sama. Jawabannya… Percaya saja, pembuktiannya masih dengan cara yang sama. Katanya, berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.
2. PERBESARAN BAYANGAN
Dari rumus di atas:
dan
kita eliminasi suku (hi + ho) dengan cara:
substitusi ke persamaan satunya:
jadi:
Inilah perbesaran. Silakan istirahat 5 menit.
Dianjurkan buka Facebook anda, lalu update status dengan:
“Muntah gara2 buka http://102fm-itb.org/2009/06/dari-mana-datangnya-optik/ ”
(5 menit kemudian)
3. PERBESARAN TEROPONG BINTANG
Dengan teropong, benda-benda di langit yang dengan mata telanjang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Atau, benda yang biasanya kelihatan menjadi besar. Coba lihat bulan dengan teropong. Apa artinya?
Perbesaran teropong adalah perbesaran sudut. Benda terlihat besar karena memenuhi bidang pandang mata. Benda yang sama, misalnya sebuah pensil, terlihat kecil jika jauh dan besar jika dekat. Jadi, yang dilihat mata adalah sudut bukan ukuran dalam sentimeter. Kita tahu panjang pensil itu 20 cm karena kita membandingkannya dengan penggaris 20 cm. Yang kita lihat adalah:
ukuran sudut penggaris 20 cm dan pensil adalah sama, maka kita simpulkan panjang pensil 20 cm.
Coba kalau pensil kita taruh jauh, sedangkan penggaris dekat. Kita akan melihat (Coba dengan sebelah mata) panjang pensil berkurang. Bukankah bulan dan matahari terlihat sama besar?
Bagaimana dengan teropong?
Bintang ganda Alfa Centauri yang biasanya terlihat satu karena sudutnya begitu kecil, dengan teropong terlihat dua. Artinya, dengan teropong, sudut terlihat lebih besar. Berapa perbesarannya? Perhatikan gambar. (mungkin perlu kaca pembesar – nanti akan dibahas perbesarannya.)

Gambar 4. Meneropong alfa centauri (klik untuk gambar ukuran sebenarnya)
Pada gambar, garis-garis yang warnanya sama adalah sejajar. Garis putus-putus merah dan biru pada okuler adalah sumbu utama lain yang sudutnya disesuaikan. Sinar sejajar sumbu utama dibiaskan ke fokus. Untuk tiap sinar yang arahnya tidak jelas, dibuat sumbu utama yang sejajar dengannya, dan titik fokusnya juga. Ke situlah sinar terbias. Contohnya adalah garis hijau di objektif.
Sekarang nilai h. Kita lihat, di antara objektif dan okuler:
untuk sudut kecil. Tapi, di sisi kanan okuler, h juga sama dengan:
Dari mana?
Perhatikan: sudut antara garis putus-putus merah dan putus-putus hitam adalah θ1, karena yang merah adalah sumbu utama yang sejajar dengan sinar datang merah, yang sudutmya θ1. Selanjutnya, θ2 adalah sudut kelihatannya gambar bintang (garis oranye dengan putus-putus hitam). Menyamakan h menghasilkan:
Setelah mencoret suku yang sama:
Ini menghasilkan:
Rumit? Makanya ini tidak diajarkan di sekolah. :d
4. PERBESARAN KACA PEMBESAR
Perhatikan gambar:

Gambar 5. Kaca pembesar (klik untuk gambar ukuran sebenarnya)
Benda diletakkan di jarak s0 sehingga jatak bayangannya si dari lensa. Jarak mata ke lensa d. sudut θ, yaitu ukuran sudut bayangan yang terlihat, sama dengan:
Dengan mengubah bentuk rumus jarak benda-bayangan lensa (bagian 1):
Ini kita substitusikan ke persamaan untuk θ. Tunggu dulu. si negatif atau positif? Dalam gambar, positif. Dalam rumus, negatif (maya). Baiklah, kita ganti:
Biasanya didefinisikan jarak akomodasi mata x yang dalam hal ini sama dengan si + d.
Bagaimana dengan perbesaran? Sedikit lagi.
Perbesaran tentunya perbandingan sudut-kelihatannya-benda-dengan-lup, dengan sudut-kelihatannya-benda-dengan-cara-biasa. Sekarang, apa itu sudut-kelihatannya-benda-dengan-cara-biasa? Bayangkan, kita mau melihat benda kecil. Tentunya, kita mendekatkan benda itu sedekat mungkin dengan mata. Jarak minimumnya adalah titik dekat atau PP (punctum proximum). Pada jarak ini benda terlihat paling besar. Lebih dekat dari ini, tidak terlihat. Maksudnya, buram. Jadi, sudut-kelihatannya-benda-dengan-cara-biasa adalah:
Sehingga perbesaran kaca pembesar adalah:
Nah, biasanya orang memakai lup dekat dengan mata sehingga d = 0. Kemudian, supaya melihatnya nyaman, benda ditaruh di fokus supaya bayangan ada di tak-hingga, dan akomodasi mata minimum. (mata normal) Jadi, dengan mengambil limit x → tak-hingga:
Atau jika ingin perbesaran sedikit lebih besar, benda sedikit didekatkan sehingga bayangannya di PP (jarak terdekat yang bisa dilihat):
Begitulah. Kalau mau pembahasan rumus lain, minta saja. Mungkin dijawab.





























wah bagus tuh penerapannya rinci berikut rumus, salam kenal ya…sukses slalu
maw minta pembahasan rumusnya magnet dong,
terutama pada toroida ama yang satunya tapi ngga melingkar
wah bagus banget penjelasanya, memang kita harus tauh dari mana datangnya rumus2 itu, okelah kasih penjelasan yang lain dong misalnya persamaan schrodinger
saran untuk editor.
kalau gambarnya terlalu sulit untuk digambar-ulang, printscreen aja terus paste.
untuk pembahasan yang lain…
magnet berasal dari hukum biot-savart, kemudian dengan kalkulus vektor jadi hukum Ampere, lalu jadi rumus-rumus kawat lurus, solenoida (kumparan), toroida, dll. semua diajarkan di jurusan fisika ITB. Rasanya terlalu sulit kalau dibahas di sini, dan saya juga lupa gimana caranya.
persamaan Schrodinger berasal dari… Schrodinger.
Oh, jadi jawabannya bukan dari mata turun ke hati
@eko: ada yang salah gambarnya ya ko? hmmm,, maaf maaf,,
yang mana yang salah? nanti diperbaiki..
ga ada sih…
pers (5) dan (6) bisa dapet pake kesebangunan segitiga lho…(soalnya pertanyaan ini pernah sy kasi ke anak2 tpb yg lagi praktikum fidas yg modul sifat lensa dan cacat bayangan, tapi sialnya gk ada yg jawab haha3…):-@
wah 102 FM, salam abang-abang semua, saya juga anak fisika itb 2007…
keren blognya… saya link ya..
Wah, saya ketinggalan nih, ternyata sejak bulan Juni dah eksis lagi ya…. maju terus ya dengan artikel-artikelnya yang muantap-muantap
>-
=d>=d>=d>
Setau saya, sebenernya ada beberapa buku fisika yang nurunin juga rumus-rumus tersebut, tapi dengan cara yang lebih sederhana, misalnya perbesaran kaca pembesar yang diturunkan di bukunya Om Marthen Kanginan terbitan Erlangga, untuk kelas X SMA. cara penurunannya berbeda dengan tulisan di atas dan lebih singkat, karena dari awal ada pengandaian-pengandaian seperti mata menempel pada lup dan tan alpa = alpa untuk sudut kecil.
Tapi rumus yang diturunkan mas Eko tidak ada pengandaian tersebut dari awal (di akhirnya yang ada). Pokoknya muantap dech penurunan rumusnya …
Kalo saya mo request, turunin persamaan Bernoulli untuk fluida dooonnggg… ^:)^
nice! lanjutkaan.
wah baguz sekali penjelasannya berkat gambar ini aku sudah jelas… thank ya!
>-