Miskonsepsi Laju Rata-Rata
Misalkan kita menempuh perjalanan PP (”pergi-pulang” atau “pulang-pergi”) dari gedung fisika ke gedung rektorat. Perjalanan pergi dilakukan dengan laju 15 km/jam, sedangkan perjalanan pulang dengan laju 30 km/jam. Lalu muncul pertanyaan,
Berapa laju rata-rata perjalanan PP tersebut?
Dengan sangat percaya diri, mungkin kita langsung menjawab, (15 + 30)/2 = 22,5 km/jam.
Benarkah jawaban tersebut?
Mari kita telaah lagi…
Percayalah pada kami, jawaban itu salah! Banyak di antara kita yang menjawab demikian karena menganggap tiap komponen laju memiliki “bobot” yang sama terhadap laju rata-rata. Perlu disadari bahwa tidak selamanya komponen penyusun nilai rata-rata semuanya memiliki bobot yang sama. Seperti pertanyaan laju rata-rata ini, dua laju yang berbeda menghasilkan waktu tempuh yang berbeda pula. Laju 80 km/jam memiliki waktu tempuh yang lebih singkat dibanding 40 km/jam (untuk jarak yang sama: gedung fisika vs rektorat). Jawaban yang tepat untuk pertanyaan laju rata-rata ini adalah memandang nilai 40 km/jam memiliki bobot 2 kali lebih besar daripada laju 80 km/jam karena waktu tempuh perjalanannya yang dua kali lebih lama. Dengan demikian, laju rata-rata yang benar adalah:
Kalau kita tidak begitu yakin jawabannya begitu, cobalah tinjau contoh lain yang lebih “merakyat”. Misalkan ada seorang siswa yang mengikuti sepuluh ujian fisika dalam satu semester. Sembilan dari tes yang diikutinya bernilai 100, sedangkan satu tes sisanya bernilai 50. Apakah adil jika nilai rata-rata siswa tersebut adalah (100+50)/2 = 75?
Tentu tidak!
Perhitungan nilai rata-rata yang adil untuk siswa itu adalah dengan terlebih dahulu mengalikan setiap nilai terhadap “bobot”nya masing-masing, yaitu seberapa banyak nilai tersebut diperoleh. Jadi, nilai rata-rata sang siswa adalah
Sekarang kita kembali ke persoalan laju rata-rata. Seorang yang memiliki rasa penasaran tinggi mungkin akan bertanya,
Bagaimana jika salah satu laju itu bukan kelipatan dari yang lainnya?
Sebenarnya mudah saja kalau mau dikembalikan pada definisi laju rata-rata, yakni total jarak per total waktu. Artinya kita cari dulu waktu untuk masing-masing laju, gunakan jarak gedung fisika-rektorat, lalu dibagi dengan waktu totalnya. Mungkin yang jadi masalah adalah kita malas mengukur jarak maupun waktu tempuh tersebut, pokoknya data yang kita punya hanyalah data laju (atau data nilai apapun dalam satu kelompok besaran fisika yang sama).
Ada cara yang lebih efisien untuk menghitung laju rata-rata tersebut. Di sini kita akan menggunakan konsep rata-rata harmonik, yaitu rata-rata dari barisan harmonik. Istilah “harmonik” boleh dianggap berasal dari pola bilangannya: 1/2, 1/3, 1/4, 1/5, 1/6, 1/7, dst, dan jika membuat sebuah gitar dengan panjang relatif satu senar dengan senar lainnya seperti itu, maka akan muncul alunan melodi indah nan harmonis. (cuih, ingin muntah, najis deh bahasanya!)
Ok, kita kembali ke laptop. Kesalahpahaman terhadap konsep nilai rata-rata biasanya menyebabkan kebingungan yang amat sangat. Untuk menghindarinya, sekali kita tahu bahwa kita lagi ingin menghitung laju rata-rata (dengan cara rata-rata harmonik), maka kita akan punya rumusan yang sangat menyenangkan dalam perhitungan rata-rata harmonik untuk laju-laju dengan jarak yang sama. Pada soal yang kita bahas di awal, jarak yang ditempuh dengan masing-masing laju adalah sama, yaitu jarak gedung fisika-rektorat.
Jadi apa rumusnya? Coba turunkan sendiri ya
Di sini kita berikan langsung hasilnya.
Untuk dua laju a dan b, rumus nilai rata-ratanya adalah
Untuk tiga laju a, b, c,
Untuk empat laju a, b, c, d,
dan seterusnya… polanya sangat jelas.
Terapkan rumusan ini pada soal awal yang kita berikan:
Supaya lebih mantap, kita coba soal lain yang lebih susah,
Suatu hari, sebuah angkutan kota (angkot) melakukan perjalanan PP dari Antapani ke Ciroyom lalu balik lagi Ciroyom ke Antapani dengan laju rata-rata 300 km/jam (gila!). Esok harinya, ada angin yang berhembus dengan laju 50 km/jam dari Antapani ke Ciroyom. Anggap bahwa setting-an supir angkot itu tetap sama, bagaimanakah laju rata-rata untuk perjalanannya hari tsb? Apakah lebih cepat? Lebih lambat? Atau sama saja?
Dengan pikiran selintas tanpa menggunakan rumus rata-rata harmonik, kita mungkin berpikir sama saja. Asumsinya adalah angkot tersebut mendapat “bantuan” angin pada jalur Antapani ke Ciroyom (jadi lajunya 350 km/jam), sedangkan pada jalur Ciroyom ke Antapani mendapat “hambatan” angin (jadi lajunya 250 km/jam). Dengan pola pikir yang keliru seperti di awal tulisan ini, didapatkanlah laju rata-ratanya (350 + 250)/2 = 300 km/jam, sama saja…
Tapi coba terapkan rumus rata-rata harmonik,
ternyata lebih lambat! Dan inilah hasil yang benar…
Pasti bingung ![]()

Ooh… Knapa bisa dapet
2ab/a+b yah…
ni deh yang masih berupa hasil
kan pulang pergi itu jarakna sama (misal A)
x = 250 . t1 = 350 . t2
250/350 = t2/t1
(misal)
t2 = 5
t1 = 7
berarti kecepatan rata2nya=
Ditulis dengan[(250 x 7) + (350 x 5)] / (7 + 5)
= 3500/12 = 291,67
tambahan:
Ditulis dengan“…Yang masi berupa hasil…” hemm… agak rumpang yah bahasana
#Hyaweh,
ho..ho.. canggih..
seneng deh liat orang yang coba tebak2 dengan reverse engineering model gini.
tetap semangat, terus asah intuisinya
Ditulis denganHumm…



Ditulis denganItu di soalnya “…esok harinya angin berhembus dengan kecepatan 50km/jam…”…alhasil: kecepatan bis jadi 250 dan 350 km/jam
itu…massa anginnya sama kayak massa bisnya yah???
#Hyaweh,
anggap saja begitu

ceritanya ini lagi ngomongin kinematika
kadang kita perlu asumsi2x tertentu untuk mempermudah penyelesaian masalah
Ditulis denganNgiring comment ah…
Laju rata2 = jarak tempuh/total waktu
untuk dua laju a dan b… dan jarak tempuhnya sama… dan waktu tempuh dengan laju a adalah t1 dan waktu tempuh dgn laju b adalah t2, maka
x1 = x2
a*t1=b*t2 sehingga t1/t2 = b/a
maka v_rata2 = (x1+x2)/(t1+t2)
= (a*t1+b*t2)/(t1+t2)
= t2*(a*t1/t2 + 1)/t2*(t1/t2 +1)
= (a*t1/t2 + 1)/(t1/t2 +1)
= 2b/(b/a + 1)
= 2ab/(a+b)
untuk tiga laju a,b,c… dan jarak tempuhnya sama… dan waktu tempuh dengan laju a adalah t1 dan waktu tempuh dgn laju b adalah t2 dan waktu tempuh dengan laju c adalah t3, maka…
x1 = x2 = x3
sehingga
t1/t2 = b/a dan t3 = b*t2/c
maka
v_rata2 = (x1+x2+x3)/(t1+t2+t3)
= (a*t1/t2 + 2b)/(t1/t2+1+b/c)
= 3b/(b/a+1+b/c)
= 3abc/(ab+ac+bc)
Hal yang sama untuk 4 laju dan seterusnya…
Hatur nuhun…
Ditulis dengan#Fiki,
Hohoho…
Mantabs…
Sang Master, Si Mamang turun gunung euy…
Hatur nuhun pisan

Ditulis denganEh, bade nyumbang artikel teu?
hmm…
rumus diatas bisa dijadiin gini ngga?
300 x ((250 x 350) : 300^2)
maksutx
300 x 250 x 350 = 87500 x 300 = 26250000
26250000/300^2 = 26250000/90.000
= 291.66667…
coba ama persamaan diatasnya…
15 ama 30 -> 22,5
22,5 x 15 x 30 = 10125
10125/25^2
= 20…
weh, bener…tapi ini ga taw asalx darimana…T_T
oh, ya ada soal yang sama nih, tapi dah dimodifikasi ama temenq:
jika saya melakukan sbuah perjalanan pulang pergi dari kota A ke kota B, dengan kecepatan saat pergi 25m/s…
Ditulis denganberapakah kecepatan yang harus saya capai pada saat pulang jika saya menginginkan kecepatan rata2nya adalah
a) 50 m/s
b) 100 m/s(jelaskan apa maksudnya^^)
Bisa juga seperti ini
Ditulis denganKarena 350/250 = 7/5 maka
(250*7/5 + 350*1)/ (7/5 +1) = 291.67
Nambahin lagi pertanyaan:
Ditulis denganKenapa kalo kita jabat tangan pake tangan kanan juga?
Oh ya, kenapa klo nerima pemberian pake tangan kanan?
Jawabannya adalah karena tangan kanan lebih besar, coba deh perhatiin tangan kanan ternyata lebih besar dibandingkan tangan kiri, perhatiin jari-jarinya. y kan??
Jadi klo nerima pake tangan kanan lebih banyak deh.
Terus ada lagi, cuma panjang euy.
mw kuliah lagi