21
Jul

Jawaban Teka-Teki Timbangan

[oleh: Zainul Abidin, alumni Fisika ITB]

Masih ingat Teka-Teki Timbangan? Kan belum ada yang bener-bener berhasil jawab dengan betul tuh… Kita bahas aja yuk…

» PERTANYAAN 1

Gaya-gaya apa saja yang terlibat? Tentu ada gaya gravitasi.
Bagaimana dengan gaya oleh otot-otot dan antara bagian-bagian tubuh? Terlalu rumit.
Persoalan menjadi lebih sederhana jika kita memperhatikan gerakan pusat massanya saja. Dengan demikian, cukup gaya-gaya dari luar saja yang diperhitungkan; bukan gaya-gaya antara bagian tubuh yang satu dengan yang lain. Mengapa?


Keluar dari topik pembicaraan
Hukum Newton III mengajarkan bahwa gaya yang bekerja pada i oleh j besarnya sama dengan gaya yang bekerja pada j oleh i dengan arah berlawanan, secara matematis Fij = -Fji. Untuk i:

dengan persamaan di ruas kiri adalah percepatan dan massa, dan vektor Fiekst adalah gaya luar yang bekerja pada i. Posisi pusat massa:

Diperoleh percepatan pusat massa:

Suku pertama nol karena Fij = -Fji, sehingga diperoleh

Sekarang kita paham bahwa hanya gaya-gaya luar yang perlu diperhitungkan. Apa saja gaya-gaya luar itu? Gravitasi Mg arahnya ke bawah dan gaya normal N arahnya ke atas. Menurut prinsip aksi-reaksi, ada juga gaya yang besarnya N yang bekerja pada timbangan dan arahnya ke bawah. Gaya N inilah yang terukur.

Mari kita tinjau berat yang terukur:

  • Dalam keadaan diam (berdiri atau jongkok) percepatan pusat massa sama dengan nol.

    Arah positif ke bawah. Berat yang terukur:

  • Jika pusat massa dipercepat ke bawah:

    dan

    artinya

  • Jika pusat massanya diperlambat:

    dan

    maka

Mula-mula posisi berdiri, pusat massa diam. Kemudian pusat massa dipercepat. Sebelum jongkok harus di-”rem” dulu, pusat massa diperlambat. Akhirnya posisi jongkok, pusat massa diam.

Misalnya percepatan dan perlambatannya konstan maka akan diperoleh grafik:

Kenyataannya sulit melakukan percepatan dan perlambatan yang konstan. Jadi jawabannya C. Kalau gaya ngebor Inul sebelum jongkok? Tentu grafiknya lebih rumit. =))

» PERTANYAAN 2

Teka-teki lain yang berhubungan dengan soal ini dapat dilihat pada referensi 1. Terkait dengan teka-teki tersebut muncul artikel di American Journal of Physics (referensi 2) beberapa puluh tahun yang lalu. Menurut referensi 2, gaya akibat tumbukan pada dasar jam pasir sama dengan berat pasir yang sedang jatuh bebas. Sehingga berat jam pasir yang terukur tidak berubah.

Misalnya n adalah banyaknya pasir yang jatuh bebas per satuan waktu, m adalah massa setiap butir pasir, v adalah kecepatan pasir saat mencapai dasar, dan T adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai dasar. Momentum setiap butir pasir sesaat sebelum mencapai dasar adalah mv. Gaya pada dasar jam pasir sama dengan momentum yang hilang per satuan waktu nmv. Karena v = gT, maka nmv=nmgT. Banyaknya pasir dalam keadaan jatuh bebas adalah nT, maka berat pasir yang sedang jatuh bebas juga nmgT. Sehingga berat jam pasir yang terukur tidak berubah.

Bagaimana dengan argumen sebelumnya? Mari kita perhatikan posisi pusat massa. Mula-mula seluruh pasir ada di tandon atas. Pusat massa bergerak dari atas ke bawah, dan tentu saja mengalami percepatan dan perlambatan. Berat yang terukur seharusnya berubah. Jadi apanya yang salah?

Penjelasan yang diberikan pada referensi 2 mengasumsikan bahwa tinggi permukaan pasir di tandon bawah dan atas tidak berubah selama selang waktu T dan kecepatan awal pasir sama dengan nol. Asumsi yang benar jika banyaknya pasir yang jatuh per satuan waktu relatif kecil. Secara kuantitatif:

dengan Δh adalah perubahan tinggi permukaan pasir. Misalnya waktu yang diperlukan untuk memindahkan seluruh pasir dari tandon atas ke bawah adalah 1 jam, maka kecepatan rata-rata pusat massanya sangat kecil, begitu juga dengan percepatan dan perlambatannya, sehingga perubahan berat yang terukur juga sangat kecil.

Masih mau lanjut? Mari kita hitung perubahan berat yang sangat kecil itu. Berbeda dengan zat cair, banyaknya pasir yang jatuh per satuan waktu relatif konstan, tidak bergantung pada tinggi permukaan pasir pada tandon atas (referensi 3). Bentuk jam pasirnya kita ganti menjadi kotak, anggap permukaan pasir di tandon atas dan bawah selalu datar. Anggapan yang tidak realistis, apa boleh buat, demi menyederhanakan perhitungan.

Misalnya posisi lubang berada di z = 0, dengan arah sumbu z positif ke bawah. Mari kita tinjau berbagai pusat massa di dalam jam pasir:

  • Massa total pasir:

  • Massa pasir di tandon atas:

    dengan posisi pusat massa di:

  • Massa pasir di tandon bawah:

    dengan posisi pusat massa di:

  • Massa pasir yang sedang jatuh:

    dengan posisi pusat massa di:

Nilai h akan mempengaruhi nilai:

dan

Karena banyaknya pasir yang jatuh persatuan waktu konstan, maka

dengan vp adalah kecepatan turunnya permukaan pasir di tandon atas.

Pusat massa sistem berada di

(persamaan 1)

Percepatan pusat massa sistem adalah turunan kedua terhadap waktu

Bagian yang “agak” rumit adalah menghitung turunan kedua terhadap waktu dari suku terakhir di persamaan 1. Melangkahi beberapa detail diperoleh

(persamaan 2)

yang selalu negatif. Pada persamaan ini v0 adalah kecepatan pasir di lubang, z = 0. Kecepatan turunnya permukaan pasir vp dapat diketahui dari pengukuran panjang L dan waktu yang diperlukan untuk menghabiskan pasir di tandon atas. Kecepatan v0 dapat diketahui dari perbandingan luas lubang terhadap luas penampang tandon atas. Dengan asumsi bahwa kerapatan pasir di tandon atas uniform diperoleh v0 > vp . Tentu saja kerapatan (lebih tepatnya massa per satuan tinggi) pasir yang sedang jatuh bebas bergantung pada nilai z,

(persamaan 3)

Persamaan 2 menunjukkan bahwa pusat massa sistem diperlambat. Faktor vp2/L menunjukkan bahwa percepatan pusat massa sangat kecil. Misalnya waktu untuk memindahkan seluruh pasir ke tandon bawah adalah 1 jam dan L = 10 cm, maka vp2/L ≈ 10 cm/jam2 = 8 x 10-9 m/s2. Efek yang nyaris tidak terdeteksi. Bandingkan dengan percepatan gravitasi 10 m/s2.Cuma orang-orang kurang kerjaan duit pas-pasan yang mau menghitung. =))

Bagaimana dengan percepatan pusat massa saat belum ada pasir di tandon bawah?
Sekali lagi dengan melangkahi beberapa detail diperoleh

(persamaan 4)

yang selalu positif karena v0 > vp.

Model yang sangat sederhana ini memberikan gambaran kualitatif apa yang terjadi. Tentu saja model di atas dapat disempurnakan dengan mengganti bentuk tandon atas, dan mengganti bentuk permukaan pasir di tandon atas dan bawah, misalnya menjadi kerucut dsb. Enaknya “berteori” adalah kita dapat membuat asumsi untuk menyederhanakan persoalan. Pada akhirnya eksperimenlah yang menjadi hakim. Jika ternyata prediksi model melenceng dari hasil eksperimen, maka tugas fisikawan teoretik untuk memperbaiki model. Siklus teori-eksperimen inilah yang disebut sebagai metode ilmiah. Orang-orang praktis akan bertanya buat apa repot-repot menghitung berat jam pasir? Jawaban muluk-muluknya yaitu untuk kemajuan bangsa dan negara =)) . Maksudnya ya itu tadi: Kurang kerjaan. Kadang-kadang, keisengan itu ternyata bermanfaat. :D

» PERTANYAAN 3

Sama seperti pada pertanyaan 1 dan 2, perubahan berat yang terukur bergantung pada percepatan dan perlambatan pusat massa sistem. Pusat massa sistem kira-kira dipercepat ke atas, kemudian diperlambat, kemudian berhenti. Maka berat yang terukur adalah kebalikan dari jawaban soal 1.

Bagaimana jika udara dapat keluar masuk sangkar? Berat burung yang sedang terbang tidak hanya “ditanggung” oleh timbangan, tapi oleh permukaan bumi lainnya. Untuk bisa menjawab berapa persen berat burung yang di tanggung oleh timbangan perlu diketahui detail mengenai gerakan udara oleh kepakan sayapnya.

Referensi:

Note:
Jangan tanya pada admin tentang berapa lama beresin penyuntingan tulisan ini. 8-}

18 Komentar

  • Eko W.:

    Bagaimana kalau di ruang atas terdapat gas yg massa molekulnya M1 dan yang di bawah M2, tekanan, suhu, volume sama, M1>M2?
    Bagaimana kalau gasnya sama, tekanannya sama, tapi suhunya beda?
    Bagaimana kalau…

  • Hyaweh Hoshikawa:

    Weeheee Keren ^^
    belom smpet mbaca total, ntar malem deh ^^

  • Zainul:

    #Eko W.
    Artinya ada peluang “riset” lebih lanjut. Kalo lagi kurang kerjaan silahkan anda itung sendiri. (kemungkinan besar gak ada yg mau mendanai riset ini) Hehehe… :))

    #Admin
    Maafkan saya karena telah merepotkan. :d

  • Astronom (sangat) Amatir:

    Bagian yang ‘agak’ rumit adalah menghitung turunan kedua terhadap waktu dari suku terakhir di persamaan 1. Melangkahi beberapa detail, diperoleh… (bla… bla… bla…)

    Waktu yang dibutuhkan oleh pembuat jawaban teka-teki ini untuk menjelaskan bagian yang ‘agak’ rumit kepada saya ternyata lebih dari 60 menit.
    Apakah penjelasannya selesai? Tentu tidak! =))

    Jadi ingat jaman kuliah Fisika Kuantum dulu. Di bukunya ada tulisan:

    a simple algebra yields the results… (bla… bla… bla…)

    Satu kelas nyoba mecahin simple algebra itu sehari semalam nggak ada yang nemu. :((

  • Rachavidya:

    Astaghfirullah…
    Keren pembahasannya…
    Tak sesimpel yang kukira =d>

  • Zainul:

    #Astronom (sangat) Amatir
    Hehehe… makanya pake tanda petik, bukan makna yang sebenarnya. Setiap orang dapat mengartikannya ber-beda2. Bagi penulis, “agak” rumit artinya dapat menimbulkan sakit kepala dan kejang2. Salah satu artikel favorit saya di sini adalah: http://102fm-itb.org/2008/05/fisika-tanpa-rumus-mungkinkah/

  • Pak AR:

    Salam,

    Subhanallah…
    Fisika memang Tafsir Kauniyah,

    Wassalaam,

  • Deni:

    OOT nih… :)

    kebetulan punya tugas, tentang fluida..

    kalo misalnya ada gelas berisi air dengan volume V, gelas ditarik ke atas dengan kecepatan v. akan tetapi gelasnya bocor di bagian alasnya, luas kebocorannya A. cara menghitung berapa detik air di gelas akan habis bagaimana yah?

    regards… :x

  • Zainul:

    #Deni
    1. Pikirkan jawabannya seumpama gelas tidak ditarik.
    2. Pikirkan pengaruh gerakan gelas yg konstan.
    Selamat berpikir.

  • Deni:

    klo misalnya nih pake rumus kecepatan kebocorannya v(bocor) = (akar)2 x g x h
    dengan h = v t,

    karena perubahan tinggi bergantung terhadap perubahan waktu, maka
    dh = vdt

    jadi di integralin dua2 nya, makanya didapetin
    h = vt

    bisa gak?

    trus volume kebocorannya = v(bocor) x A
    trus volume tersisanya tinggal dikurangi volume awal dikurangi volume bocor???

  • Hyaweh Hoshikawa:

    menurutq sih masi salah, soalnya v itu bergantung pada h…
    ato dengan kata lain
    v = (2g(h0 - dh)^1/2)
    padahal
    h = h0 - ((2g(h0 - dh)^1/2).t. (Abocor/Atotal))

    nah, tinggal gimana nyari dh-nya itu tanpa ada variabel h lagi di ruas yang laen itu yang aq ngga bisa +_+

  • Deni:

    klo misalnya v itu konstan, jadi di sana gak ada percepatan, cuma v aja. jadi v gak pernah berubah… gimana?

  • Hyaweh Hoshikawa:

    ya udah, kalo’ gitu jawabanya yah cuman
    0 = h- v.t

    paling agak paradoxalnya (karena ga’ taw gimana yang seharusnya) cuman antara

    0 = hawal - v.t
    ato
    0 = hawal - v.t.(Abocor/Atotal)

    taw kan, kalo’ kali tu dikerjakan lebi dulu daripada + dan -

    tapi, kalo’ ngga diasumsikan bahwa kecepatanya tetap, yah, terpaksanya
    v^2 = 2gh
    v^2 = 2g(ho-dh)

    menurutq sih begitu…
    P.S: aq blom kuliah lo!…masi SMA, jadi yang qtulis disini tidak dijamin…

  • Eko:

    Bayangkan sisa air = limit menuju nol. maka v = akar(2 g h) = menuju nol. Air tidak akan habis selama-lamanya. mengapa jawaban ini salah?

  • Hyaweh Hoshikawa:

    knapa salah…
    pada prakteknya kan emang kalo’ ada kasus kaya’ gitu bakal ada air yang tersisa…(alasnya datar)

    kecuali kalo’ alasnya dibikin jadi ngerucut,,,

  • Deni:

    kalo misal nya gelasnya diam sih udah ketemu…

    dengan A(bocor) = luas alas kebocoran

    A(pipa) = luas alas pipa)
    h = ketinggian air
    t = waktu

    dh/dt = - (A(bocor)/A(pipa))(akar)2gh

    dari situ dapet waktu nya…
    tapi klo gelas nya ditarik ke atas itu yang bingung….

  • Hyaweh Hoshikawa:

    #Eko…
    :d :d
    hoo, thx bwat kritik-sarannya, stelah saya teliti ulang, ternyata cara saya mengerjakan itu salah…
    salahnya gara2 itu lubang bukannya ada di alas, tapi adanya di dinding tabung bagian paling dasar… :d

  • Deni:

    ^_^ memang lubangnya ada di dasar gelas kok…

    ini dapet dari buku advanced engineering mathematics nya erwin kreyszig…..

    tapi gimana klo gelasnya ditarik ke atas???

Berikan Komentar

:) :( :d :"> :(( ;d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- emoticon lain »

Umpan RSS