02
Jun

Bohlam versus Neon

[oleh: Akhmad Yulianto, Tim Admin 102FM]bohlamneon

Itu listrik kan jadi lebih irit
Bila bohlam diganti dengan neon (Inah!)
Padamkan lampu bohlamnya

Kirain lagi pada ngomongin apa
Taunya beda bohlam dengan neon (Inah!)
Gunakan lampu neon

Ada yang kenal dengan lirik di atas? Betul… Penggalan lirik tersebut berasal dari lagu “Hemat” yang dipopulerkan oleh P. Project pada tahun 1994. Lagu ini merupakan parodi dari tembang milik 4 Non Blondes, “What’s Up”. Melalui lagu ini, P. Project berusaha menggugah para pendengarnya untuk senantiasa berhemat, salah satunya dengan menggunakan lampu neon daripada bohlam.

Untuk mengerti “Itu listrik kan jadi lebih irit bila bohlam diganti dengan neon” maka, pertama-tama, yang dibicarakan adalah “Beda bohlam dengan neon”

» Beda bohlam dengan neon

Prinsip bohlam dan lampu neon adalah sama, memanaskan filamen tungsten. Lebih lanjut lagi, untuk membantu pemancaran cahaya yang lebih baik, bohlam dan lampu neon juga sama-sama menggunakan gas inert di dalam tabungnya. Jadi, apa bedanya?

Pertama, mari kita tinjau prinsip kerja bohlam. Saat kita menyalakan bohlam arus akan mengalir melalui filamen yang menyebabkan tungsten memanas. Panas dari aliran elektron ini akan menyebabkan atom-atom pada kristal bergetar dan elektron yang terikat pada atom meloncat ke tingkat energi yang lebih tinggi. Saat elektron yang terikat kembali ke tingkat energi semula, kelebihan energi yang dimiliki elektron akan “dibuang” dalam bentuk foton, atau dalam kata lain filamen akan berpijar. Foton yang dihasilkan berkisar pada rentang cahaya tampak dan infra merah. Pada temperatur tinggi, filamen ini akan menghasilkan lebih banyak cahaya tampak dari pada infra merah. (itu sebabnya dipilih tungsten yang memiliki titik leleh tinggi sebagai filamen dari bohlam.) Selain itu, bohlam diisi dengan gas inert agar filamen tungsten tidak teroksidasi dan rusak.

Lantas, bagaimana dengan prinsip kerja lampu neon?
Proses pertama yang terjadi ketika lampu dinyalakan adalah “meloncatnya” elektron dari katoda. Elektron-elektron ini akan menumbuk dan mengionkan gas neon (inert) yang terdapat di dalam tabung. Arus yang dihasilkan dari ion-ion ini menguapkan raksa. Raksa yang telah menjadi uap ini kemudian bertumbukan dengan ion dan juga elektron, menyebabkan elektron yang terikat di atom raksa tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Elektron ini kemudian akan terelaksasi sambil memancarkan sinar UV.

Sinar UV? Berbahaya dong?
Tunggu dulu… Di sini lah fungsi lapisan putih pada tabung kaca. Lapisan ini akan menyerap sinar UV ini. Di lapisan ini kembali terjadi proses eksitasi elektron yang disusul oleh emisi foton akibat relaksasi elektron, kali ini rentang frekuensi dari foton ada pada daerah tampak. Apalagi tidak semua sinar UV itu berbahaya, bahkan ada yang dibutuhkan oleh tubuh. :)

“Itu listrik kan jadi lebih irit bila bohlam diganti dengan neon”

Bohlam memiliki rentang frekuensi pada cahaya tampak dan inframerah, sedangkan cahaya infra merah tidak dibutuhkan oleh mata. Berbeda dengan lampu neon yang mampu mengubah cahaya tidak tampak (sinar UV) menjadi cahaya tampak dengan bantuan dari lapisan putih pada lampu neon. Selain mengeluarkan cahaya tidak pada daerah tampak, bohlam juga terlalu banyak “memakan” listrik menjadi panas.

Pada lampu neon, adakah sinar UV yang lolos?
Kebanyakan sinar UV akan diserap dan menjadi cahaya tampak oleh lapisan fosfor. Pada kenyataannya, sinar UV, walaupun dengan intensitas kecil, tetap dihasilkan oleh lampu neon.

Bahkan saat ini ada lampu neon (fluorescent) dengan spektrum yang mirip spektrum pancaran Matahari. Lampu dengan rentang sinar UV ini sengaja ditemukan untuk membantu produksi vitamin D pada “orang-orang kantoran”.

10 Komentar

  • Agus Suroso:

    Eh, lampu neon itu beneran isinya gas neon? Kenapa pakai neon? Kalau dipakai gas lain bisa ga ya? 8->

  • Vei:

    Wah ada yang bisa lebih irit lagi… coba pake LED… sekarang LED dah hampir sama kayak Bohlam terangnya. Klo pake neon sama bohlam terlalu banyak ngambil energi. :P

  • Akhmad Yulianto:

    #Agus:
    penamaan lampu neon memang dikarenakan lampu tersebut berisi gas neon (dulu). Gas neon (inert) digunakan karena mereka tidak akan bereaksi dengan filamen (katode). Namun, belakangan ini, gas argon lebih menjadi pilihan utama dibandingkan neon karena masalah kelimpahannya di bumi.

    #Vei:
    menggunakan LED (light emitting diode) memang amat sangat efisien sekali (lihat kata2 penekanannya.. :D ).
    namun frekuensi cahaya (warna) yang dihasilkan oleh LED masih bergantung pada material yang digunakan, terlebih spektrum yang dihasilkan pun masih sempit.
    untuk menghasilkan cahaya dengan rentang spektrum yang lebar (cahaya putih) diperlukan kombinasi LED cahaya merah, hijau dan biru. kalaupun ada LED dengan cahaya putih, intensitasnya masih kecil. biaya pembuatannya pun masih tinggi.

    inovasi-inovasi dengan LED sedang dilakukan. diantaranya dengan melapisi LED berspektrum UV dengan bermacam-macam material fluorescent (mekanismenya seperti lampu fluorescent) untuk menghasilkan spektrum cahaya putih, lebih-lebih bisa menghasilkan spektrum cahaya yang mirip dengan Matahari. :)

    o iya, tentang masalah:

    pake neon sama bohlam terlalu banyak ngambil energi

    saya sangat setuju sekali dengan anda. saya akan lebih memilih menggunakan bohlam saja, atau neon saja. ga usah pake dua-duanya, boros. (becanda.. hehe..)

  • Yoyo:

    memang, pakai neon lebih irit, tapi, ada pertanyaan nih, maksud kelimpahannya di bumi untuk gas argon gimana ? apakah setiap hari kita juga menghirup gas argon ?

  • Akhmad Yulianto:

    #Yoyo:
    maksud dari kelimpahan di bumi adalah jumlah gas argon lebih banyak dibandingkan dengan gas neon.

    atmosfer bumi (udara) mengandung 78.08% nitrogen, 20.95% oksigen, 0.93% argon, dan gas-gas lainnya. jadi, setiap hari kita menghirup gas argon, neon, oksigen, nitrogen, karbon dioksida. bisa dikatakan demikian. :)>-

  • Fran Kurnia:

    Pertanyaan singkat nih, koq kalo neon udah mati sering ada item2nya di kacanya. Nah pas sy pecahin kacanya koq putih2nya masih ada ya? Item2nya juga masih ada lho. Nah neonnya itu yg putih atau yang item2 kaya kebakar gitu?

  • Akhmad Yulianto:

    #Fran
    klo kaca putih ::: material fluorescent-nya
    neon ::: gas aja, terbang entah kemana…
    item2 kebakar ::: “mungkin” (masih agak ragu), campuran filamen dan raksanya… huehue

  • Arbin:

    Lampu neon, memang lebih irit. Tapi cukup mahal. Beda dengan bohlam. Tapi dikamar saya pake neon kok.
    Pake bohlam, bisa merusak mata. Cahayanya kurang terang. Kalau neon, terang abis. cocok untuk mahasiswa.
    Bohlam, Cepat putus Filamennya. Sedangkan neon, biasa lama baru putus.
    Kalo bohlam putus, tidak bisa diperbaiki. Rusak total. Tidak bisa berfungsi lagi. Tapi kalau neon, masih bisa dinyalahkan.

    Oh ya salah satu praktikum kami di Fisika Unhalu untuk eksperimen II adalah Koil Tesla. Dan yang dimanfaatkan adalah neon yang sudah tidak menyala lagi. Setelah didektakan dengan koil tesla, ternyata lampu menyala. Walaupun tidak semuanya. Intensitas cahayanya netral pada tegangan tertentu. Nanti setelah diturunkan tegangannya, intensitas cahayanya kembali berubah.

    Cuman info awal aja sih

  • Arbin:

    Nanti saya coba diskusikan fenomena yang kami lakukan di Unhalu di Materi Koil Tesla. Tapi saya mau izin dahulu. Kalau diizinkan, saya akan sedikit jelaskan fenomena Koil Tesla yang kami eksperimenkan di kampus kami.

  • Sieta:

    Mksh bwt infrmasinya….
    cz Q lg bngung cri bhan bwt ngrjain karya ilmiah!!!
    klau bsa, tlong ksh cntoh krya ilmiahnya y….
    mslhnya, apa yg trjadi jka kwat filamen pd bhlam jka putu trs dismbung lg…
    ditunggu infonya, trims… ;d/

Berikan Komentar

:) :( :d :"> :(( ;d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- emoticon lain »

Umpan RSS