31
Mei

Nuklir, Pembangkit Listrik Dunia

[oleh: Fran Kurnia, Staf Kominfo 102FM]

Kenaikan BBM menimbulkan berbagai dampak negatif dalam masyarakat. Hal ini memang telah diramalkan akan terjadi sebelumnya oleh para eksekutif yang notabene setuju terhadap kenaikan BBM. Tetapi, bukan dampak negatif ataupun politisasi kenaikan harga BBM di Indonesia yang akan dibahas kali ini, melainkan sisi positif yang dapat ditarik dari kemelut permasalahan bangsa ini, yaitu pemenuhan kebutuhan energi listrik dalam masyarakat dengan menggunakan reaktor nuklir.

Perencanaan opsi pembangunan reaktor nuklir dalam memenuhi kebutuhan energi nasional telah dimulai sejak tahun 2000. Lima tahun kemudian, pemerintah sepakat dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama dan rencananya tahun 2010 konstruksi awal PLTN I dimulai sehingga tahun 2016-2017 PLTN I sudah dapat beroperasi [Kompas, edisi cetak 13 Juli 2007]. Lalu yang terjadi hingga hari ini ialah hanya tanda tanya besar akan keberadaan reaktor nuklir di Indonesia.

Jika ditelaah dari ilmu sosial yang telah didapat dari bangku SD hingga perguruan tinggi terlihat bahwa peningkatan populasi penduduk yang berbanding lurus dengan kebutuhan energi,terutama untuk negara yang menunjukkan perkembangan penduduk agrikultural menuju industrial. Menipisnya cadangan sumber energi konvensional (seperti minyak bumi dan gas), serta keterbatasan daya dukung lingkungan terhadap efek penggunaan sumber energi konvensional adalah sebagian alasan pemilihan energi nuklir sebagai alternatif dan cadangan kebutuhan energi dalam negeri.

Sekarang, jika melihat di negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang dan Perancis. Bukankah belum pernah terdengar berita di beberapa negara ini terjadi tindakan-tindakan anarkis dari masyarakat akibat kenaikan harga BBM? Mengapa hal ini dapat terjadi? Ya, mereka telah berhasil mengurangi dominasi sumber energi konvensional di negaranya. Sehingga, tidak ada alasan untuk menaikkan harga barang-barang kebutuhan pokok jika harga minyak dunia naik. Lalu bagaimana negara-negara maju ini mengurangi dominasi sumber energi konvensional yang notabene merupakan sumber energi utama untuk negara-negara berkembang? Energi nuklir, yang berhasil membuat reformasi energi itu.

reaktorserem
[gambar dari: Colorado College]

Di seluruh dunia saat ini ada 441 reaktor nuklir. Bahkan, sampai tahun 2020 PLTN akan bertambah 126 buah. Dari jumlah itu, 40 di antaranya berada di China. China sudah bertekad memanfaatkan PLTN yang murah, aman, dan bersih untuk memenuhi kebutuhan 1,3 miliar penduduknya. Di Negara lain, Prancis telah memenuhi 78 persen kebutuhan listriknya dari PLTN. Jepang juga, sekitar 40 persen kebutuhan listriknya diperoleh dari PLTN. Belum lama ini, Presiden AS George W Bush juga telah menyampaikan rencana pembangunan konstruksi energi nuklir AS tahun 2010, dan mengingatkan bahaya seputar ketergantungan pada minyak. Memberikan contoh Perancis, China dan India, Presiden Bush mendesak program 1,1 miliar dolar AS untuk mempromosikan konstruksi pembangkit energi tenaga nuklir, sesuatu yang sudah tidak dilakukan AS sejak 1970-an.

Bahkan, di AS, tahun 2002 presiden AS George Bush telah meluncurkan program Nuclear Power 2010 dengan fokus pada komersialisasi reaktor generasi III+. Program ini didukung oleh US Energy Policy Act 2005 (Epact 2005). Berdasarkan UU ini Pemerintah AS memberikan tiga bentuk subsidi bagi industri nuklir: tax production credit sebesar 18 dollar AS/MWh sampai 125 juta dollar AS per 1.000 MW, ketetapan untuk mendapatkan jaminan sampai 80 persen biaya proyek oleh pemerintah federal dan, jaminan risiko (risk insurance) sebesar 500 juta dollar AS untuk dua unit pertama dan 250 juta dollar AS untuk unit 3-6. Jaminan ini akan dibayarkan jika keterlambatan pembangunan bukan disebabkan oleh penerima lisensi [Kompas, edisi cetak 25 Juli 2007]. Berbagai subsidi ini membuat perekonomian PLTN lebih baik karena sejumlah biaya dan risiko investasi ditanggung oleh konsumen dan publik AS.

Rusia dan beberapa negara Eropa barat lainnya merupakan contoh negara-negara yang telah memanfaatkan energi nuklir dalam menghidupi kebutuhan listrik, baik permukiman maupun industri. Tragedi Chernobyl maupun kasus tumpahan limbah radioaktif seharusnya tidak menjadi alasan meniadakan pengembangan energi nuklir di Indonesia. Daya dukung konstruksi, teknologi pengolahan uranium sebagai bahan baku energi nuklir, serta pengolahan limbah radioaktif yang harus dioptimalkan.

Kebutuhan akan listrik adalah primer, apalagi berkaitan dengan pembangunan yang sedang berjalan. Berapa banyak investor yang ke luar Indonesia karena macetnya suplai listrik industri. Berapa kerugian yang diderita perusahaan dan industri kecil menengah selama krisis listrik melanda Indonesia, khususnya daerah Jawa, Madura, dan Bali. Kali ini sudah waktunya Indonesia menggeliat dengan sebuah pembangkit listrik berkelas dunia, reaktor nuklir.

13 Komentar

  • Julian:

    Selain dari sisi teknologi, tantangan yang cukup besar biasanya muncul dari masyarakat. Semoga saja kenaikan BBM sekarang ini bisa mengingatkan masyarakat akan pentingnya sumber energi alternatif

  • Fisikawan Muda:

    #Julian,
    We hope so… :)

  • Anjar Wicaksono:

    Indonesia khan negara kepulauan… banyak pulau kecil terpencil yg hampir tidak berpenghuni..

    lalu mengapa memilih Jepara yang ada di PULAU JAWA sebagai tempat pembangunan PLTN?

  • Rifqie:

    Yup… sumber energi alternatif itu memang HARUS. Jelas tidak mungkin kita bergantung pada sumber energi yang akan habis nantinya. Tapi entah kenapa, rasanya pemerintah masih ga serius mengembangkan sumber-sumber energi alternatif. Angin, solar cell, panas bumi.
    Ngga berani? :o padahal jelas-jelas bermanfaat, insyaAllah.

    Kalo soal nuklir, kayanya banyak muatan politisnya. Hmm, heran… orang Indonesia tuh cupu, ga berani bilang “Saya akan mengembangkan nuklir, takpeduli Amerika mau bilang apa”. Kayak Ahmadinejad gitu…

  • Fran Kurnia:

    #Anjar W,
    Oh iya kenapa pembangunan PLTN direncanakan akan dibangun di Jepara?:-?
    Jawabannya, kalo dibangun dikosan sy ga muat, hehe… ;))

    Bukan-bukan itu jawabannya [-( ,
    soalnya gini, tipe PLTN yang mau dibangun itu rencananya tipe PWR (Pressurized Water Reactor) yang pendinginnya (sekunder dan primer) menggunakan (sirkulasi) air laut. Jadi dari tinjauan lapak geografisnya daerah Jepara itu cocok bangetttsss… :)>-

  • Fran Kurnia:

    #Rifqie,
    Kalo tentang sumber2 energi alternatif lainnya, menurut saya kemungkinan itu karena energi yang dihasilkan cukup kecil, jika dibandingkan dengan energi yang dapat diproduksi sebuah reaktor nuklir, sayang sy ga punya datanya mungkin temen2 102FM ada yg punya?:-w

    Ssst! :-$
    Jangan bilang2 kalo org kita cupu atau apalah,sekarang yg kita perlu hanya penerimaan masyarakat terhadap teknologi nuklir ini. Dan juga yang paling penting l-) suatu saat presiden kita (entah siapa) berkenan membangun reaktor nuklir, saya harap hal itu jangan dijadikan ajang korupsi bagi tangan2 yang menangani hal itu. Ya itu semua hasilnya kan buat bangsa kita juga. Ok… :-h

  • Julian:

    Nampaknya sosialisasi tentang energi alternatif juga perlu dilakukan untuk kalangan pemerintah. Kabarnya, baru-baru ini pemerintah diributkan oleh isu Blue Energy, yaitu bahan bakar yang diperoleh dari hasil konversi air (ada di Majalah Tempo)

    Dilihat sepintas aja nampaknya tidak mungkin. Bahkan, istilah Blue Energy pun kelihatannya kurang tepat (blue energy kan energi karena perbedaan konsentrasi garam di air, bukan konversi air ke BBM).

    Bagaimana penjelasannya dari sudut pandang fisika?

  • Fisikawan Muda:

    #Julian,

    Sudah banyak yang menjelaskan HOAX (sok ilmiah)-nya “blue energy” ala Indonesia. Padahal isinya cuma omong kosong belaka. Ingin menghasilkan energi tapi melanggar hukum kekekalan energi. (Ingat perubahan bentuk energi!)
    Ya, kita di sini memang salah kaprah dalam pemaknaan “blue energy” yg kalau di luar negeri merupakan suatu jenis “synthetic fuel“. Tapi kami pikir kami tidak kompeten untuk menjelaskan lebih dalam secara fisis soal itu karena bukan bidangnya. Dari berita terbaru (cari di google) sudah bisa dipastikan bahwa “blue energy” ala Indonesia itu omong kosong belaka bisa bikin bahan bakar (minyak?) dari air
    [SBY kecele ;) ]

    Lucu juga, padahal awalnya media massa yang menggembar-gemborkan “keajaiban” begitu ampe harganya katanya bisa 3000/L, tetapi sekarang media massa pula yg “membunuh” karakter sang dalang pembuatnya (cari aja di google siapa orang itu). Bisa dibilang ini sebetulnya memanfaatkan situasi di tengah kekalutan/krisis energi dunia dan kondisi politik yang makin memanas untuk meningkatkan popularitas. Seandainya ia memang berani bertaruh bahwa teorinya itu ilmiah dan benar dalam eksperimen blue energy-nya, mengapa tidak ia masukkan pada jurnal terkemuka untuk di”peer-reviewed“? Jika alasannya karena paten, justru kalo mau dapet paten ya harus ke jurnal ilmiah-kan dulu dong… Orang kyk gitu tuh seolah membawa berkah, padahal fatamorgana belaka, bikin rakyat makin sengsara dengan berita-berita heboh penuh tipu daya.

    Bagi kami, nuklir tetaplah yang “menghasilkan” (mengubah) energi paling besar dan paling logis di antara semua pilihan. Sebetulnya kalau mau lebih dahsyat lagi ya di interaksi partikel elementer. Ntar deh, mungkin setelah pemahaman anggota kami bertambah, mudah2an ada yg bisa menjelaskan tentang masalah itu (dan mudah2an suatu saat bisa merealisasikannya dalam eksperimen di Indonesia).

    Mohon maaf buat yang tidak setuju, kami di sini pro-nuklir sebagai energi alternatif. Memang nuklir tidak terbarukan, tapi cukup dengan bahan yg sedikit ternyata “output”nya besar, selain juga sangat ilmiah, dan terbukti NUKLIR adalah PEMBANGKIT LISTRIK DUNIA.

    Ok, maklumilah ketergila-gilaan kami pada sumber energi yang satu ini, karena beberapa “dewa” fisika nuklir Indonesia ada di ITB… :x Dan beberapa anggota kami ada juga yang dibina oleh beliau-beliau itu…

  • Wildan:

    Wah, bagusss… :)
    kalo setiap orang indonesia punya rasa tanggung jawab terhadap negara seperti teman-teman di sini, saya rasa indonesia bisa jadi negara yang maju, kalo tentang nuklirnya, saya rasa juga sama, saat ini nuklir menjadi pilihan yang paling tepat (menurut saya), dengan pemanfaatan yang tepat dan aman, kita bisa mengemat sumber daya alam yang tidak terbarui.
    Sukses selalu :)

  • Sugeng:

    #Anjar

    Kalau PLTN dibangun di pulau terpencil listriknya sapa yang pake :-? . Kecuali kalau transport listrik dari pulau terpencil ke pulau Jawa (konsumen listrik terbesar) murah sekali mungkin layak dilakukan

  • Fran Kurnia:

    # Wildan
    Terima Kasih atas dukungannya.
    Kita akan selalu berharap memperoleh yang terbaik untuk bangsa ini…o:-)

  • Fran Kurnia:

    #Sugeng
    Sebagai tambahan saja, bahwa beberapa saudara2 kita di Indonesia bagian Timur yang notabene sulit memperoleh listrik. Mereka telah beberapa kali menyatakan minatnya untuk dibangun reaktor nuklir berukuran lebih kecil untuk didirikan di daerah tersebut. Tapi lagi2 kami selalu terbentur masalah penerimaan masyarakat karena tidak 100% dari mereka setuju terhadap pembangunan PLTN. Bahkan reaktor nuklir diatas kapalpun sudah dapat didesain secara terpadu (dalam arti keamanan dan keselamatan telah terjaga). Juga masih kurang mendapat perhatian bagi para pengguna kapal2 besar yang membutuhkan pasokan listrik yang lumayan besarnya.

  • Nuryani Nurul:

    Suerrr, ita berharap bisa cepat kerja di industri nuklir dengan gaji yang besar lho!!! Tapi yang keamanannya 100% terjaga juga… hehehe :x:x:d:)[-(;)

Berikan Komentar

:) :( :d :"> :(( ;d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- emoticon lain »

Umpan RSS